Membangun budaya positif di sekolah sangat penting untuk mengembangkan karakter peserta didik yang kuat, sesuai dengan profil pelajar Pancasila yang dijadikan pedoman pendidikan di Indonesia. Untuk menciptakan budaya positif ini, sekolah harus menyediakan lingkungan yang aman, nyaman, dan mendukung, sehingga siswa dapat berpikir, bertindak, dan berkreasi dengan bebas, mandiri, dan bertanggung jawab.
Salah satu aspek yang perlu dievaluasi adalah pendekatan disiplin yang digunakan di sekolah. Saat ini, kesadaran akan penerapan disiplin belum sepenuhnya berbasis pada motivasi internal. Kebiasaan positif yang diterapkan masih belum merupakan disiplin positif, tetapi lebih didasarkan pada sistem penghargaan dan hukuman, sehingga model disiplin yang ada belum sepenuhnya berpusat pada siswa. Selain itu, peran guru seringkali masih sebagai penghukum, bukan sebagai pemantau atau manajer yang membimbing.
Diane Gossen dikenal dengan pendekatannya yang disebut “Restitution” atau “Restitusi,” yang merupakan bagian dari upaya restrukturisasi disiplin sekolah. Pendekatan ini berfokus pada membangun kesadaran dan tanggung jawab internal siswa, bukan hanya memberikan hukuman atau penghargaan eksternal. Berikut adalah elemen penting dari teori Diane Gossen:
- Memulihkan Hubungan: Pendekatan restitusi bertujuan untuk memulihkan hubungan yang rusak akibat perilaku yang tidak diinginkan, baik antara siswa dan guru maupun antar siswa. Hal ini dilakukan dengan cara meminta siswa untuk memperbaiki kesalahan mereka.
- Pengembangan Karakter: Fokus utama dari pendekatan ini adalah pengembangan karakter dan pembentukan nilai-nilai positif dalam diri siswa. Siswa diajak untuk memahami dampak dari tindakan mereka dan belajar untuk bertindak sesuai dengan nilai-nilai yang dihargai.
- Peningkatan Kesadaran Diri: Restitusi membantu siswa mengenali dan memahami motivasi di balik perilaku mereka. Ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran diri dan membantu mereka membuat pilihan yang lebih baik di masa depan.
- Tanggung Jawab Internal: Alih-alih mengandalkan hukuman eksternal, pendekatan ini mendorong siswa untuk bertanggung jawab secara internal atas tindakan mereka. Siswa diajak untuk mengakui kesalahan mereka, memahami konsekuensinya, dan berkomitmen untuk melakukan perbaikan.
- Pendekatan Kolaboratif: Guru dan siswa bekerja sama untuk menemukan solusi terhadap masalah perilaku. Guru berperan sebagai pembimbing dan fasilitator yang membantu siswa mencapai pemahaman dan kesadaran diri.
Dalam konteks ini, teori Diane Gossen tentang “Restitusi” dapat memberikan wawasan yang berharga. Pendekatan ini menekankan pentingnya memulihkan hubungan yang rusak akibat perilaku negatif, mengembangkan karakter siswa, dan meningkatkan kesadaran diri mereka. Dengan menerapkan restitusi, siswa didorong untuk bertanggung jawab secara internal atas tindakan mereka dan memperbaiki kesalahan yang telah mereka buat.
Tujuan kita adalah membentuk siswa yang memiliki disiplin diri, sehingga mereka dapat berperilaku berdasarkan nilai-nilai kebajikan universal dan memiliki motivasi internal. Siswa yang memiliki disiplin diri mampu bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri. Bagaimana kita sebagai pendidik bisa menumbuhkan disiplin diri pada siswa, sehingga mereka dapat mengembangkan potensi mereka menuju tujuan yang bermakna dan dihargai? Bagaimana kita bisa mengembangkan budaya positif yang ada di sekolah agar menjadi karakter yang dimiliki oleh seluruh warga sekolah?
Sebagai pendidik, kita harus menumbuhkembangkan budaya positif untuk mewujudkan karakter yang sesuai dengan profil pelajar Pancasila. Kita juga perlu menerapkan disiplin yang berbasis pada restitusi, di mana peran kita adalah sebagai pemantau dan manajer, bukan sebagai penghukum. Dengan demikian, kita dapat menciptakan lingkungan yang positif, aman, dan nyaman bagi semua warga sekolah.




